13, Mei 2024
Pendidikan Kesehatan Reproduksi: Belajar Pengalaman dari Hadis Nabi

Dalam Islam, perbincangan tentang kesehatan, kebersihan, kesucian, keamanan, serta keberlangsungan reproduksi manusia, termasuk membicarakan tentang seksualitas, sejatinya, bukanlah hal yang asing. Bila yang dapat disimpulkan dari membaca sejumlah ayat Alquran dan juga mengkaji kitab-kitab hadis, tafsir, dan fikih. Salah satunya dapat ditilik dari ayat yang membeberkan tentang tema kesehatan reproduksi yang amat sentral adalah haid dan hal-hal yang memutarinya serta menegaskan tentang budi pekerti kerumahtanggaan dan pujian Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga kebersihan/kesehatan batin dengan bertaubat dan kebersihan/kesucian fisik dengan bersuci. Ayat dimaksud adalah:

 

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah bahwa haid itu sakit karenanya hindarkanlah kamu (dengan tidak berhubungan intim) dengan istri yang sedang haid dan janganlah mendekatinya hingga mereka suci. Lalu sekiranya mereka telah bersuci (mandi besar), datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan. Sungguh Allah mencintai orang-orang bersuka cita bertaubat dan mencintai orang-orang yang pintar menjaga kesucian. Istrimu adalah sawah-ladang bagimu. Datangilah sawah-ladangmu sebagaimana kamu kehendaki dan lakukanlah (kebaikan yang akan kembali) untuk dirimu sendiri. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian akan menjumpai Allah. Dan berikan kabar bersuka cita bagi orang-orang yang beriman. “(QS. Al-Baqarah, 2: 222-223).

Ayat hal yang demikian konteksnya adalah menjawab pertanyaan para teman Nabi saw. tentang apa yang boleh dan tidak boleh ketika seorang perempuan mengalami haid serta keadaan yang dialami oleh perempuan yang haid. Dari ayat hal yang demikian dapat dipahami isyarat pentingnya kaum pria (suami) berperan aktif dalam menjaga kebersihan/kesucian, kesehatan, dan kenyamanan kaum perempuan (terlebih umur haid aktif) sehingga pengalaman haid tidak menjadi beban, baik fisik ataupun psikis, dan seksual bagi perempuan, tapi justru menjadi masalahat atau membawa hikmah bagi kehidupan dalam beraneka wujudnya. Dengan turunnya ayat di atas diluruskanlah pandangan kaum Yahudi bahwa sekiranya seorang istri sedang haid sepatutnya dijauhi sama sekali (Katsir, 2003). Juga meluruskan bahwa berhubungan via jalur anus (belakang) ke qubul (kemaluan) dalam pandangan kaum Yahudi ketika itu akan menyebabkan anak yang dilahirkan bermata juling (ahwal). Berhubungan ini sempat mengundang kaum perempuan Anshar geger dan bersikap salah ketika suami joker gaming mereka hendak mendatangi via arah anus ke qubul (kemaluan) atas dasar pandangan keliru hal yang demikian sehingga turun ayat ini meluruskannya. (al-Wahidi 2009)

Malahan ayat di atas, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik bahwa Kaum Yahudi itu sekiranya istri mereka sedang haid, tidak diajak makan dan bergaul atau berkumpul di dalam rumah, sehingga turunlah ayat hal yang demikian memberi bimbingan yang bijaksana. Ayat hal yang demikian juga membeberkan tentang dibolehkannya suami-istri saling menggembirakan (mubasyarah) antara keduanya, selama tidak mengerjakan hubungan intim, adalah menghindari hubungan seksual (hingga sang istri telah bersuci dengan mandi besar) pantas yang disabdakan Nabi saw.. “Ishna’u kulla syai’in illa al-nikah” (Lakukan seluruh sesuatu, bagi suami istri, selain hubungan intim). HR. Muslim. Demikian dalam Riwayat Aisyah ra. berkata: “Kana Rasulullahi ya’muruni fa’attaziru fa yubaasyirunii wa ana ha’idhun (Rasulullah saw. menyuruhku berkain lalu beliau menggembira-kanku, dengan menyentuhkan badan ke badanku, meskipun saya sedang haid). HR. Muttafaq ‘alaih (Bukhari dan Muslim).

Betapa pula Allah swt. menjadikan kriteria hamba-hamba-Nya yang beriman dan meraih keberuntungan (al-muflihun), selain shalatnya yang khusuk, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berkhasiat, adalah membayar zakat, adalah dengan menjaga kebersihan/kesucian kemaluan (dari yang kumal dan tindakan kumal) serta memelihara amanah, sumpah dan janjinya. Mereka itulah yang akan mewarisi surga Firdaus. (lihat QS. al-Mukminun, 23: 1-11). Demikian jelas dan tegas, Allah menyebut kata furuj yang sering kali diistilahkan alat-alat kelamin atau kemaluan, baik untuk perempuan atau laki-laki. Betapa perhatian Alquran kepada kebersihan dan kesucian amat tinggi.

Bukan saja Alquran, pun hal senada demikian dapat juga dilihat ketika membuka Kitab Sahih Muslim karya Imam Muslim (w. 261 H.), pembahasan diawali dengan Kitab Iman lalu tentang bersuci (wudhu, mandi, haid, tayammum, dan seterusnya). (al-Naisaburi 2003) Sedikit berbeda dari kitab yang disebut sebelumnya, Kitab Sahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari (w. 256 H.), yang memulai pembahasan tentang wahyu, Iman, Ilmu, dan kemudian tentang bersuci. (al-Bukhari 2004). Maka lebih jelas lagi adalah Kitab Bulugh al-Maram min Jam’i Adillati al-Ahkam yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) yang banyak menjadi rujukan dalam mengkaji hadis-hadis regulasi Islam. Menariknya, pembahasan yang pertama kali dimunculkan di bagian awal kitab hal yang demikian adalah Kitab al-Thaharah (tentang bersuci) sebelum membahas tentang shalat, jenazah, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (al-‘Asqalani 2002). Betapa pula dalam kitab-kitab fikih, seperti al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah karya Abdurrahman al-Jaziri, Kitab Fiqhus-sunnah karya Sayyid Sabiq.

Berhubungan-hal di atas menampakkan bahwa seluruh yang berhubungan bersuci, persucian, dan penyucian adalah prinsip atau hal pokok dalam agama Islam sebelum mengerjakan praktik ibadah mahdhah lainnya. Setidaknya hal bersuci dianalisis setelah mengkaji hal keimanan dan ilmu secara umum, sebelum mengkaji soal shalat, puasa, dan sebagainya. Betapa tidak, shalat yang menjadi tiang agama tidak diterima oleh Allah, sekiranya dikerjakan oleh orang yang tidak/belum bersuci terlebih dahulu (dengan mengerjakan praktik bersuci diri ketika telah berhadas berupa istinjak atau cebok, mencuci, berwudhu, mandi sepatutnya, dan tayamum secara benar).

Beberapa, terasa ada kejanggalan sekiranya dalam pemahaman sementara orang belakangan bahwa membicarakan hal-hal yang berhubungan kesehatan reproduksi (walau dalam proporsi dan konteks yang wajar) diukur sebagai tabu, yang tidak pantas didiskusikan. Seringkali komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus manakala pembicaraan telah menyentuh hal-hal berhubungan organ-organ reproduksi. Bila juga yang terjadi di lembaga pendidikan formal, sekolah dan sejenisnya. Saya pembicaraan atau perbincangan (baca: pendidikan) tentang kesehatan dan hak reproduksi sejatinya sangatlah manusiawi dan amat diperlukan bagi kebaikan atau kemaslahatan manusia itu sendiri, baik di tahapan individu, keluarga, ataupun sosial. Ia seluruh mengalir bersama kehidupan umat manusia sejak dilahirkan, menjadi balita, anak-anak, remaja, dan seterusnya. Kala tentu seluruh itu pantas dengan takaran dan konteksnya. Maka pasti pada prinsipnya perbincangan soal kesehatan reproduksi (dan yang berhubungan dengan itu) adalah bagian dari kemaslahatan agama atau dalam rangka meraih kemaslahatan yang lebih tinggi, baik dalam agama ataupun berhubungan urusan dunia. Dalam konteks ini dapat disandingpadankan dengan kaidah fikih, adalah maa laa yatimmu al-wujuub illaa bihi fa huwa waajibun (sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya sebuah keharusan selain dengannya karenanya menjadi sepatutnya pula sesuatu itu) dan Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu (apa saja yang tidak dapat dikerjakan seluruh, tidak ditinggalkan semuanya).

Tidak hadis berikut dapat dihasilkan sebagai argumen pikir untuk mengucapkan bahwa pembicaraan seperlunya tentang kesehatan dan hak reproduksi pantas dengan proporsinya adalah legal dan dibetulkan. Tidak hadis itu antara lain:

Nabi saw. mengajari pesan kebersihan/kesehatan seksual dan reproduksi dengan bahasa yang amat halus dan sopan serta terukur seperti dalam hadis berikut:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اَلْأَرْبَعِ, ثُمَّ جَهَدَهَا, فَقَدْ وَجَبَ اَلْغُسْلُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ . زَادَ مُسْلِمٌ: “وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ ”

Artinya: Dari Abi Hurairah ra. berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bila seseorang berposisi di atas empat cabangnya (tangan dan kaki) lalu telah bersungguh-sungguh kepadanya, wajiblah dia mandi besar.” (HR. Muttafaq alihi). Imam Muslim menambahkan: “meskipun tidak keluar sperma”. (Lihat Bulughul maram, hadis no. 116 dan 117).

Nabi bersedia mendengar pertanyaan atau keluhan para teman, keponakan dan juga menantunya tentang orang yang sering kali keluar madzi.
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنْت رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْت الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَسَأَلَهُ : فَقَالَ : فِيهِ الْوُضُوءُ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ .

Artinya: Dari Ali ibn Abi Thalib ra. berkata: Saya adalah seorang yang sering kali keluar madzi (cairan agak lengket yang keluar dari kemaluan) lalu saya meminta al-Miqdad untuk bertanya kepada Nabi saw. Tidak pun bertanya kepada Nabi saw. (apakah seseorang yang keluar madzi diharuskan berwudhu?). Nabi saw. menjawab: “Berhubungan itu perlu berwudhu”. (HR. Muttafaq ‘alaih dengan lafaz al-Bukhari, lihat Ibn Hajar, Bulughul-maram, hadis no. 63, h. 26, lihat juga al-Shan’ani, Subulus-salam Syarah Bulughul-maram, juz 1, h. 89).

Madzi adalah air jernih putih bergetah yang keluar sewaktu terbersit bayang-bayang hubungan persuami-istrian atau seseorang merasa terstimulasi atau bercanda (dalam konteks suami istri). keluarnya tidak terasa. terjadi pada laki-laki dan perempuan. (lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, jilid 1, h. 48).

Nabimendengarkan pertanyaan dan pengaduan kaum perempuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ ، أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ ؟ قَالَ : لَا إنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ : فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُك فَدَعِي الصَّلَاةَ ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْك الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي – وَلِلْبُخَارِيِّ ” ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ ” وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدًا .

Artinya: Dari ‘Aisyah ra. berkata: Fatimah bintu Abi Hubaisy datang kepada Nabi saw. lalu bertanya: Ya Rasulallah, sungguh saya seorang perempuan yang mengalami istihadhah hingga saya tidak dalam keadaan suci. Apakah saya sepatutnya meninggalkan shalat? Nabi saw. menjawab: , (istihadah) itu cuma cairan semacam keringat, bukan haid. Bila datang haidmu, tinggalkan shalat. Bila haidmu stop, cucilah darah haid darimu (mandilah hingga bersih) lalu shalatlah.” Dan dalam lafadz al-Bukhari: “Lalu berwudhulah (sekiranya keluar darah istihadhah) untuk tiap-tiap shalat. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i).

Nabi menjawab pertanyaan seorang teman tentang regulasi menyentuh kemaluan apakah membatalkan wudhu.
وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ مَسِسْت ذَكَرِي ، أَوْ قَالَ : الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ ، أَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ، إنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْك أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ ، وَقَالَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ : هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ .

Artinya : Dari Thalq ibn ‘Ali ra. berkata: Ada seorang laki-laki berkata: “Saya telah menyentuh kemaluanku?” atau dia berkata: “Ada seorang laki-laki menyentuh alat vitalnya di dalam salat. Apakah baginya (sepatutnya) berwudhu?” Lalu Nabi saw. menjawab: “, karena itu hanyalah daging kamu sendiri”. (HR. Imam yang lima, adalah Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad), disahihkan oleh Ibn Hibban. Ali ibnu al-Madini berkata bahwa hadis ini lebih baik dari hadis riwayat Busrah. (Lihat al-‘Asqalani, Bulughul-Maram, hadis no. 66). Imam al-Shan’ani membeberkan bahwa hadis hal yang demikian diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Imam al-Daruquthni. al-Thahawi, sanadnya mustaqim ghaira mudhtarib (lurus tanpa cela). Imam a-Thabrani dan Ibnu Hazm mengukurnya shahih. (lihat al-Shan’ani, juz 1, h. 92)

error: Content is protected !!