Kekerasan di Masa Kanak-kanak
23, Mei 2024
Studi: 40% Gangguan Kesehatan Mental Berawal dari Kekerasan di Masa Kanak-kanak

Hingga 40% dari problem kesegaran mental yang umum terhitung kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan zat, rupanya berasal dari kekerasan yang didapat jaman kanak-kanak. Studi terbaru ini memperkirakan, menghindar kekerasan terhadap jaman kanak-kanak mampu menghindar lebih dari 1,8 juta persoalan problem mental ini.

Secara khusus, penganiayaan terhadap jaman kanak-kanak menyumbang 41% dari usaha bunuh diri dan 35% dari persoalan tindakan menyakiti diri sendiri. Perlu digarisbawahi knowledge tersebut didapat dari sebuah riset yang dilaksanakan di Australia.

Analisis komprehensif ini menggarisbawahi keperluan mendesak untuk menjadikan kekerasan dan penelantaran terhadap jaman kanak-kanak sebagai prioritas kebijakan kesegaran masyarakat, dengan potensi intervensi program untuk kurangi stres keluarga dan mendukung kesegaran mental.

Kondisi kesegaran mental yang diperiksa melalui riset ini adalah kecemasan, depresi, pemakaian alkohol dan narkoba yang berbahaya, tindakan menyakiti diri sendiri, dan usaha bunuh diri. Penganiayaan terhadap jaman kanak-kanak diklasifikasikan sebagai pelecehan fisik, seksual dan emosional, dan pengabaian emosional atau fisik sebelum usia 18 tahun.

Penganiayaan terhadap jaman kanak-kanak ditemukan menyebabkan 41 prosen usaha bunuh diri di Australia, 35 prosen persoalan melukai diri sendiri, dan 21 prosen persoalan depresi.

Analisis yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry itu merupakan studi pertama yang memberikan perkiraan jatah situasi kesegaran mental di Australia yang timbul akibat kekerasan terhadap jaman kanak-kanak.

Baca juga:

6 Cara Mengatasi Sakit Kepala Bagian Belakang yang Alami

Apakah Kopi Baik Diminum Setiap Hari?

Para peneliti menyebutkan temuan ini merupakan peringatan dapat pelecehan dan pengabaian terhadap jaman kanak-kanak sehingga dianggap sebagai prioritas kesegaran masyarakat nasional.

“Hasilnya terlalu buruk dan merupakan seruan mendesak untuk berinvestasi dalam pencegahan, tidak hanya memberikan pemberian individu kepada anak-anak dan keluarga, namun terhitung kebijakan yang lebih luas untuk kurangi stres yang dialami keluarga,” kata Dr Lucinda Grummitt, dari Matilda Centre Universitas Sydney, yang memimpin penelitian, dikutip dari Neuroscience.

“Investasi untuk mengatasi penganiayaan anak berpotensi menghindar jutaan persoalan problem mental di Australia,” ucapnya.

Analisis tersebut terhitung menemukan bahwa kalau kekerasan terhadap jaman kanak-kanak diberantas di Australia, maka lebih dari 1,8 juta persoalan depresi, kecemasan, dan problem pemakaian narkoba mampu dicegah.

Studi ini terhitung menemukan penghapusan penganiayaan anak di Australia, terhadap th. 2023, dapat menghindar 66,143 th. hilangnya nyawa (kematian) dan 118,493 th. hidup dengan disabilitas, sehingga total 184,636 th. hidup sehat hilang karena situasi kesegaran mental.

Para peneliti mengulas knowledge yang mencakup survei nasional yang dilaksanakan oleh Australian Child Maltreatment Study terhadap th. 2023 (8500 peserta), Australian National Study of Mental Health and Wellbeing 2020-2022 (15,893 peserta), dan studi Australian Burden of Disease 2023.

Studi ini menggunakan metode analitis untuk menyelidiki interaksi antara kekerasan anak dan kesegaran mental, yang mengisolasi faktor-faktor berpengaruh lainnya seperti genetika atau lingkungan sosial. Hal ini memberikan bukti yang lebih kuat bahwa kekerasan terhadap jaman kanak-kanak menyebabkan lebih dari satu situasi problem kesegaran mental.

Kondisi kesegaran mental waktu ini menjadi penyebab utama beban penyakit secara international dan mempengaruhi 13 prosen populasi global. Di Australia, bunuh diri adalah penyebab utama kematian kaum muda.

Penelitian di awalnya (yang independen terhadap studi Universitas Sydney) menemukan lebih dari separuh (53,8 persen) warga Australia mengalami penganiayaan sepanjang jaman kanak-kanak mereka.

Dr Grummitt menyebutkan terdapat intervensi yang efektif, seperti program untuk mendukung anak-anak yang mengalami penganiayaan atau program pendidikan orang tua, namun menurutnya solusi paling berkesinambungan untuk menghindar penganiayaan terhadap anak adalah pencegahan yang didorong oleh kebijakan.

“Kebijakan untuk kurangi stres yang dialami oleh keluarga, seperti cuti orang tua berbayar, penitipan anak yang terjangkau, pemberian penghasilan seperti Jobseeker, dan meyakinkan orang tua punya akses terhadap penyembuhan dan pemberian untuk kesegaran mental mereka sendiri mampu menyebabkan perbedaan besar bagi anak-anak Australia,” ungkapnya.

“Mengatasi situasi sosial dan ekonomi yang menyebabkan penganiayaan anak mampu berperan besar dalam menghindar problem mental di tingkat nasional,” kata Dr Grummitt.

Para peneliti mengutip sebuah umpama di Amerika Serikat di mana pemberlakuan kebijakan cuti orang tua berbayar dan akses pas waktu terhadap penitipan anak bersubsidi terlalu berkenaan dengan penurunan tingkat penganiayaan anak.

error: Content is protected !!